Rabu, 27 Mei 2009

PSIKOLOGI BELAJAR (RESUME)


PSIKOLOGI BELAJAR


· PENGERTIAN PSIKOLOGI
Psikologi berasal dari perkataan Yunani psyche yang artinya jiwa, dan logos berarti ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi (menurut arti kata) psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya.
Ilmu jiwa yang berdasarkan atas renungan-renungan untuk mencari jawaban : Apakah jiwa itu? Dari mana asalnya ? Bagaimana sifatnya? Di mana tempatnya ? Apa tujuannya ? Kemana pergi dan seterusnya, disebut ilmu jiwa kehikmatan atau ilmu jiwa metafisis (meta = dibalik,sesudah; fisis = alam nyata).
Dalam hal ini aliran baru tidak setuju dan tidak puas dengan renungan-renungan begitu saja. Mereka menggunakan pengalaman dalam mempelajari sesuatu, yaitu dengan mencoba , menyelidiki, membandingkan. Menarik kesimpulan, berdasarkan atas kenyataan dan hidup sehari-hari. Ilmu jiwa ini dinamakan ilmu jiwa empiris atau ilmu jiwa positif. Namun demikian aliran baru juga tidak meninggalkan sama sekali pada ilmu kehikmatan atau metafisis.
Di samping adanya psikologi metafisis dan psikologi empiris, maka masih terdapat pembagian lain sebagai berikut :
a. Berdasarkan atas Lapangan/Objek yang diselidiki
1. Psikologi Umum : ilmu jiwa yang mempelajari gejala-gejala kejiwaan manusia dewasa yang
normal dan beradab.
2. Psikologi Khusus : ilmu jiwa yang mempelajari sifat-sifat khusus dari gejala-gejala kejiwaan
manusia. Yang termasuk psikologi khusus,yaitu sebagai berikut :
3. Ilmu jiwa anak, yaitu ilmu jiwa yang mempelajari jiwa anak sejak lahir hingga dewasa.
4. Ilmu jiwa perkembangan, yaitu mempelajari bagaimana terjadi dan berkembangnya
kehidupan jiwa anak-anak normal.
5. Ilmu jiwa criminal, yaitu mempelajari soal-soal yang berhubungan dengan kejahatan .
6. Psikopatologi,yaitu mempelajari tentang penyakit-penyakit jiwa atau kelainan-kelainan jiwa
seseorang.
7. Ilmu watak(karakterologi), yaitu mempelajari watak seseorang atau golongan.
8. Massa-psikologi, yaitu mempelajari gejala-gejala yang terjadi pada himpunan manusia
banyak.
9. Ilmu jiwa golongan/kemasyarakatan, yaitu mempelajari gejala-gejala jiwa dalam golongan
hidup, misalnya guru, hakim, buruh, pelajar, dan sebagainya.
10. Ilmu jiwa bangsa-bangsa, yaitu mempelajari gejala-gejala dalam tiap-tiap bangsa.
b. Berdasarkan atas kegunaannya/tujuannya
1. Ilmu jiwa teoretis, ialah ilmu jiwa yang mempelajari gejala-gejala kejiwaan untuk gejala-gejala
itu sendiri.
2. Ilmu jiwa praktis, ialah ilmu jiwa yang mempelajari segala sesuatu tentang jiwa untuk
digunakan dalam praktek.
c. Ditinjau dari segi objeknya, maka psikologi dapat dibagi sebagai berikut :
a. Psikologi metafisika
Meta =dibalik,di luar; fisika = alam nyata. Yang menjadi objek ialah hal-hal yang mengenai asal-usulnya jiwa, wujudnya jiwa akhir jadinya sesuatu yang tidak berwujud nyata dan tidak pula diselidiki dengan ilmu alam biasa atau fisika.
b. Psikologi empiris
Dalam abad-abad kemudian para ahli dan pujangga lebih mengutamakan pada rasio (misalnya Descartes). Ia mengatakan bahwa ilmu jiwa yang benar hanya diperoleh dengan berpikir, bukan dengan pengalaman dan percobaan.
c. Psikologi behaviorisme (tingkah laku)
Behaviorisme tidak mau menyelidiki kesadaran dan peristiwa-peristiwa psikis, karena hal ini adalah abstrak,tidak dilihat sehingga tidak dapat diperiksa dan dipercayai.
Manusia sebagai makhluk budaya maka psikologi akan mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu kebudayaan, dengan filsafat, dengan antropologi, sosiologi, biologi dan lain sebagainya. Dalam bagian ini akan ditinjau hubungan psikologi dengan beberapa pengetahuan sebagai berikut :
1. Hubungan Psikologi dengan Filsafat
Pada awalnya ilmu ini adalah bagian dari filsafat, sebagaimana ilmu-ilmu yang lain,misalnya ilmu hukum, ekonomi, dan sebagainya. Semuanya itu bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta segala sesuatu dan hasil ciptaan itulah yang menjadi objek atau sasaran dan merupakan cabang ilmu pengetahuan. Manusia sebagai makhluk hidup juga merupakan objek dari filsafat, yang antara lain membicarakan soal hakikat kodrat manusia, tujuan hidup manusia, dan sebagainya. Bahkan dapat dikemukakan bahwa ilmu-lmu yang telah memisahkan diri dari filsafat itupun tetap masih ada hubungan dengan filsafat, terutama mengenai hal-hal yang menyakut sifat hakikat serta tujuan dari ilmu pengetahuan.

2. Hubungan Psikologi dengan Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmu pengetahuan alam mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan psikologi. Karenanya sebagian ahli berpendapat, kalau psikologi ingin mendapatkan kemajuan haruslah mengikuti kerja yang ditempuh oleh ilmu pengetahuan alam. Kenyataan, bahwa karena pengaruh ilmu pengetahuan alam, psikologi mendapatkan kemajuan yang cukup cepat, sehingga akhirnya psikologi dapat diakui sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri terlepas dari filsafat, walaupun pada akhirnya metode ilmu pengetahuan ini tidak seluruhnya digunakan dalam lapangan psikologi, oleh karena perbedaan dalam objeknya. Sebab ilmu pengetahuan alam berobjekkan manusia yang idup, sebagai makhluk yang dinamik, berkebudayaan, tumbuh berkembang, dan dapat berubah pada setiap saat.

3. Hubungan Psikologi dengan Biologi
Biologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang kehidupan, berarti bahwa semua benda yang hidup menjadi objek biologi. Oleh karena biologi berobjekkan benda-benda yang hidup, maka cukup banyak ilmu-ilmu yang tergabung didalamnya. Sekalipun masing-masing ilmu itu meninjau dari sudut yang berlainan namun segi-segi tertentu, kedua ilmu itu ada titik-titik pertemuan.
4. Hubungan Psikologi dengan Sosiologi
Manusia sebagai makhluk sosial juga menjadi objek sosiologi. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan manusia mempelajari manusia di alam masyarakatnya. Tinjauan sosiologi yang penting ialah hidup bermasyarakatnya, sedangkan tinjauan psikologi, bahwa tingkah laku sebagai manifestasi hidup kejiwaan yang didorong oleh moral tertentu hingga manusia itu bertingkah laku atau berbuat. Karena adanya titik-titik persamaan ini, maka timbullah cabang ilmu pengetahuan dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi sosial.

5. Hubungan Psikologi dengan Pedagogik
Pedagogik sabagai ilmu yang bertujuan untuk memberikan bimbingan hidup manusia sejak lahir sampai mati tidak akan sukses, bilamana tidak mendasarkan diri kepada psikologi, yang tugasnya memang menunjukkan perkembangan hidup manusia sepanjang masa, bahkan ciri dan wataknya serta kepribadiannya ditunjukkan oleh psikologi.
6. Hubungan Psikologi dengan Agama
Psikologi dan agama merupakan dua hal yang sangat erat hubungannya, mengingat agama sejak turunnya kepada Rasul diajarkan kepada manusia dengan dasar-dasar yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi psikologi pula. Contoh bahwa psikologi dan agama mempunyai hubungan erat dalam memberikan bimbingan manusia adalah terhadap manusia yang berdosa pada manusia yang melanggar norma tersebut dapat mengakibatkan perasaan nestapa dalam dirinya meskipun hukuman lahirnya tidak diberikan terhadapnya.

· PSIKOLOGI UMUM
1. Tingkah Laku Manusia Berbeda dengan Makhluk Lain
Manusia bukan saja merupakan makhluk sosial, yaitu makhluk yang harus hidup dengan sesamanya, tetapi lebih dari itu manusia mempunyai kepekaan sosial. Kepekaan sosial berarti kemampuan untuk menyesuaikan perbuatan seseorang akan berbeda-beda kalau menghadapi orang yang sedang marah, gembira, sedih, dan lain-lain. Tingkah laku seseorang juga akan berbeda dalam lingkungan orang-orang yang sedang berpesta, sedang memperingati kematian, atau sedang berdiskusi.

2. Metode Penyelidikan Ilmu Jiwa
a. Metode Observasi
Metode untuk mempelajari gejala kejiwaan secara mengamati dengan sengaja, teliti, dan sistematis. Metode ini dapat dibagi menjadi 3 macam yaitu :
1. Instropeksi
Instropeksi adalah sumber tentang pengetahuan jiwa yang utama, karena hanya kesadaran tentang jiwa sendirilah yang dapat dikenal langsung. Menurut Auguste Comte,seorang ahli filsafat Perancis, mengatakan bahwa instropeksi tak mungkin memberi hasil yang baik, karena tak ada orang yang dapat mempelajari peristiwa-peristiwa jiwanya sendiri secara objektif.

2. Instropeksi Eksperimental
Ialah instropeksi terhadap kejadian, yang ditimbulkan dengan sengaja yang dengan mengadakan percobaan-percobaan (eksperimen).

3. Ekstrospeksi
Ialah metode untuk mempelajari gejala-gejala kejiwaan dengan jalan mempelajari peristiwa-peristiwa jiwa orang lain dengan teliti dan sistematis (ekstro = keluar). Jadi sebelum kita mengadakan ekstrospeksi, terlebih dahulu kita harus mengetahui sebab, maksud dan tujuan kejadian-kejadian dalam diri kita sendiri, kemudian barulah kita melakukan ekstropeksi. Jadi instropeksi adalah dasar utama bagi ekstropeksi.

b. Metode Pengumpulan
Ialah metoda untuk menyelidiki gejala-gejala kejiwaan manusia dengan cara mengumpulkan sebanyak-banyaknya, kemudian membanding-bandingkannya dan mengambil kesimpulan-kesimpulan yang bersifat umum.
Metode ini dapat dibagi menjadi 3 bagian, adalah sebagai berikut :
1.Angket, ialah penyelidikan yang dilakukan dengan memberikan daftar pernyataan mengenai gejala-gejala kejiwaan yang ditunjukkan kepada sejumlah besar manusia, sehingga berdasarkan jawaban yang diperolehnya dapat diketahui keadaan jiwa seseorang atau sekumpulan orang.
2.Metode riwayat hidup, ialah metode untuk menyelidiki gejala-gejala kejiwaan dengan jalan mengumpulkan riwayat hidup sebayak-banyaknya, baik ditulis sendiri maupun yang ditulis oleh orang lain.
3.Metode pengumpulan bahan-bahan ialah dengan mengumpulkan permainan-permainan, gambar-gambar, karangan-karangan, dan sebagainya.
c. Metode Klinis
Ialah dengan jalan mengikuti orang yang diselidiki sambil mengemukakan pertanyaan-pertanyaan, tetapi selalu dijaga agar jalan pikiran orang yang diselidiki tidak terganggu, sehingga dengan demikian dapatlah dipelajari hidup kejiwaan.
d. Metode Eksperimental
Ialah dengan sengaja menimbulkan gejala-gejala kejiwaan untuk diselidiki. Metode ini ada 2 macam, yaitu sebagai berikut :
1.Eksperimen, ialah pengamatan secara teliti dalam waktu tertentu guna mempelajari gejala-gejala yang ditimbulkan dengan sengaja, untuk menetapkan sifat-sifat yang ditimbulkan dengan gejala-gejala kejiwaan manusia.
2.Tes, ialah suatu percobaan yang dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau perintah-perintah yang harus dikerjakan, untuk mendapatkan gambarantentang kejiwaan seseorang atau segolongan orang.
3. Pengamatan
Manusia memiliki indra untuk mengamati segala sesuatu yang ada dalam lingkungannya. Dari hasil pengamatan itu tinggallah kesan atau tanggapan. Proses berfungsinya alat indra terhadap sesuatu akan mengenai indra manusia. Tiap manusia dalam memperoleh tanggapan itu tidak sama, hal ini dipengaruhi macam tipe tanggapan manusia.
Macam-macam tipe tanggapan :
a. Tipe visual, artinya manusia itu mempunyai ingatan yang baik/kuat dari apa yang dilihat.
b. Tipe auditif, artinya manusia memiliki ingatan yang kuat dari apa yang didengar.
c. Tipe motorik, artinya manusia mempunyai ingatan yang kuat dari rangsangan yang bergerak.
d. Tipe tekstual, artinya manusia mempunyai ingatan yang baik dari apa yang diraba.
e. Tipe campuran, artinya semua indra memiliki kemampuan yang seimbang, sehingga pada
waktu seseorang mengindra menggunakan semua indra.

4. Asosiasi
Ialah hubungan antara tanggapan yang satu dengan tanggapan yang lain dan saling mereproduksi. Reproduksi artinya kemampuan jiwa untuk mengeluarkan kembali tanggapan dalam kesadaran.

5. Ingatan
Ialah suatu daya yang dapat menerima, menyimpan, dan memproduksi kembali kesan-kesan/tanggapan/pengertian. Ingatan kita dipengaruhi oleh sifat seseorang, alam sekitar, keadaan jasmani, keadaan rohani dan umur manusia.

6. Fantasi
Yaitu suatu daya jiwa yang dapat membentuk tanggapan baru berdasarkan tanggapan-tanggapan yang sudah ada (lama). Menurut jenisnya fantasi itu dibedakan :
a. Fantasi menciptakan, artinya fantasi yang benar-benar menghasilkan sesuatu yang baru.
b. Fantasi terpimpin, artinya fantasi yang timbul karena sesuatu perangsang dari luar.
c. Fantasi melaksanakan, artinya fantasi yang berada diantara fantasi menciptakan dan
fantasi terpimpin.

7. Berpikir
Berpikir adalah daya jiwa yang dapat meletakkan hubungan-hubungan antara pengetahuan kita. Hasil berpikir itu dapat diwujudkan dengan bahasa. Inteligensi yaitu suatu kemampuan jiwa untuk dapat menyesuaikan diri dari situasi baru secara cepat dan tepat.

8. Inteligensi
Menurut W. Stern, inteligensi adalah suatu daya jiwa untuk dapat menyesuaikan diri dengan cepat dan tepat di dalam situasi yang baru. Faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi yaitu, kematangan pembawaan, pembentukan dan minat.
9. Perasaan
Ialah suatu fungsi jiwa untuk dapat mempertimbangkan dan mengukur sesesuatu menurut “rasa senang dan tidak senang”. Perasaan ini mempunyai sifat-sifat yaitu senang dan sedih/tidak senang, kuat dan lemah, lama dan sebentar, relative, dan berdiri sendiri sebagai pernyataan.

10. Kemauan/Kehendak
Yaitu fungsi jiwa untuk dapat mencapai sesuatu dan merupakan kekuatan dari dalam. Proses kemauan sampai pada tindakan (perbuatan) itu melalui beberapa tingkat, yaitu motif, perjuangan motif, dan keputusan.
11. Gejala Jiwa Campuran
Yang termasuk gejala jiwa campuran yaitu : perhatian, kelelahan, dan sugesti/saran. Menurut LC Bigot dan Kohnstam ketiga hal tersebut dijadikan satu menjadi gejala jiwa campuran.

· PSIKOLOGI ANAK
Sebenarnya pendidikan anak itu sudah dimulai sejak Yunani dan Romawi Kuno, namun belum memandang anak tidak sebagaimana mestinya. Pada abad ke-17 Yohan Amos Comenius yang pertama kali memandang anak sebagai anak didik yang mempunyai sifat-sifat tertentu, yang tidak boleh dipandang sebagai orang dewasa.
Menurut Langeveld bahwa :
1. Perkembangan anak itu dipengaruhi oleh alam lingkungannya.
2. Dalam usaha mendidik anak, pendidikan yang bertanggung jawab oleh karena itu
pendidikan harus merumuskan sebaik-baiknya.
3. Dalam usaha mendidik belum ada usaha sempurna yaitu dalam usahanya mengembangkan
yang positif yang ada pada anak.
Dalam perkembangan manusia ada beberapa aliran atau pendapat antara lain :
a. Aliran konvergensi, bahwa perkembangan manusia itu dipengaruhi oleh faktor dasar dan ajar.
Aliran ini dipelopori oleh W. Stern.
b. Aliran nativisme, yaitu bahwa yang membentuk pribadi manusia itu berbentuk atau berasal
dari faktor-faktor dari dalam. Aliran ini dipelopori oleh Yean Yaques Rousseau.
c. Aliran empirisme, yaitu pribadi manusia itu ditentukan oleh faktor dari luar. Pandangan ini
dipelopori oleh John Locke.
Masa anak ini juga disebut masa anak sekolah, yaitu masa untuk matang belajar, anak tersebut sudah merasa besar dan tidak mau lagi sebagai kanak-kanak kecil. Anak tersebut sudah lepas dari lembaga pendidikan dasar.

· PSIKOLOGI ANAK LUAR BIASA
Dalam memahami anak luar biasa atau psikologi anak luar biasa ini diperlukan pemahaman kecacatan dan akibat-akibat dari kecacatan yang terjadi pada anak/penderita. Pengertian cacat yaitu anak yang pertumbuhan dan perkembangannya mengalami penyimpangan baik segi fisik mental dan emosi serta sosialnya bila dibandingkan dengan anak lain yang sebaya.
Tujuan mempelajari psikologi anak luar biasa yaitu :
1.Untuk mengetahui keadaan anak berkelainan, dan pengaruhnya terhadap penderitaan anak
berkelainan.
2.Mengetahui sikap dan kepribadian anak berkelainan dalam hubungannya dengan lingkungan.
3.Mengetahui reaksi anak berkelainan dalam penyesuaian diri.
4.Untuk mengetahui pengaruh keturunannya terhadap kehidupan di masyarakat.
5.Untuk mengetahui reaksi individu anggota masyarakat dalam menanggapi anak berkelainan.
Hambatan perkembangan bagi anak berkelainan ini disebabkan oleh :
1. Kurangnya pengalaman fisik dan kurangnya belajar dari orang lain.
2. Bagi anak berkelainan mempunyai sifat rasa rendah diri terhadap lingkungan.
3. Kadang-kadang cemas dan sedih sebagai tanda hilangnya keseimbangan kepribadiannya.
Adapun sebab-sebab keabnormalan disebabkan oleh factor berikut ini :
1. Endogen, yaitu faktor dari dalam itu sendiri.
2. Eksogen, yaitu timbulnya keabnormalan dating dari luar, dari masyarakat, dari lingkungan.
Macam-macam gangguan jiwa yang disebabkan oleh lemahnyasyaraf atau akibat payah, yaitu :
a. Neurosthenia, gangguan jiwa yang disebabkan oleh lemahnya syaraf atau akibat payah.
b. Hisyteria, gangguan jiwa yang disebabkan oleh seseorang yang tidak mampu mengatasi
kesukaran hingga oaring tersebut mengalami gelisah, semas, dan pertentangan batin.
c. Bychastenid, gangguan jiwa dimana kurangnya kemampuan untuk berintegrasi yang
wajar.
d. Stutering, bentuknya bermacam-macam ada yang berbentuk terputus-putus, terulang-
ulang, tertahan-tahan, kadang-kadang hal ini ada penekanannya sendiri, hingga disertai
gerakan bibir dan anggota sering terjadi akibat masa kanak-kanak, kebanyakan pada anak
laki-laki.

· MASALAH KESULITAN BELAJAR

Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor inteligensi yang rendah (kelainan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non-inteligensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar, karena itu dalam rangka memberikan bimbingan yang tepat kepada setiap anak didik, maka para pendidik perlu memahami masalah-masalah yang berhubungan dengan kesulitan belajar.
Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar dapat digolongkan kedalam 2 golongan, yaitu berikut ini :
a. Faktor intern (faktor dari dalam diri manusia itu sendiri), yang meliputi faktor fisiologi dan
faktor psikologi.
b. Faktor ekstern (faktor dari luar manusia) meliputi faktor-faktor non-sosial,dan faktor-faktor
sosial.
Mencari sumber penyebab utama dan sumber-sumber penyebab peserta lainnya adalah menjadi mutlak adanya dalam rangka mengatasi kesulitan belajar.
Langkah-langkah yang diperlukan ditempuh dalam rangka mengatasi kesulitan belajar, dapat dilakukan melalui 6 tahap yaitu :
1. Pengumpulan data
2. Pengolahan data
3. Diagnosis
4. Prognosis
5. Treatment/perlakuan
6. Evaluasi
Dalam proses belajar-mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong,membimbing dan memberikan fasilitas belajar bagi murid-murid untuk mencapai tujuan. Guru mempunyai tanggungjawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan anak.dalam peranannya sebagai direktur belajar, hendaknya guru senantiasa berusaha untuk menimbulkan, memelihara, dan meningkatkan motivasi anak untuk belajar.
Ada 4 hal yang dapat dikerjakan guru dalam memberikan motivasi ini yaitu :
a. Membangkitkan dorongan kepada siswa untuk belajar.
b. Menjelaskan secara konkret kepada siswa apa yang dilakukan pada akhir pengajaran.
c. Memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai sehingga dapat merangsang untuk
mencapai prestasi yang lebih baik dikemudian hari.
d. Membentuk kebiasaan belajar yang baik.

· BIMBINGAN BELAJAR

Masalah belajar adalah inti dari kegiatan disekolah. Sebab semua disekolah diperuntukkan bagi berhasilnya proses belajar bagi setiap siswa yang sedang studi disekolah tersebut. Tujuan bimbingan di sekolah yaitu; kebahagian hidup pribadi, kehidupan yang efektif dan produktif, kesanggupan hidup bersama dengan orang lain, dan keserasian antara cita-cita siswa dengan kemampuan dimilikinya.
Tujuan bimbingan belajar secara umum adalah membantu murid-murid agar mendapat penyesuaian yang baik di dalam situasi belajar, sehingga setiap murid dapat belajar dengan efisien sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya dan mencapai perkembangan yang optimal
Fungsi utama dari bimbingan adalah membantu murid dalam masalah-masalah pribadi dan sosial yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran atau penempatan dan juga menjadi perantara dari siswa dalam hubungannya dengan para guru maupun tenaga administrasi. Adapun fungsi bimbingan ada 4 macam,yaitu preservative, preventif, kuratif, dan rehabilitasi.
Teknik bimbingan dapat dibagankan sebagai berikut :
1. Teknik individual, terdiri dari directive counseling, non-derective counseling, dan eclective
counseling.
2. Teknik kelompok, terdiri dari home room, field drip, group discussion, kegiatan kelompok,
organisasi murid, sosiodrama, psikodrama, upacara dan papan bimbingan.

· PENGAJARAN REMEDIAL DALAM PROSES BELAJAR
Menurut James O. Whittaker, belajar dapat didefinisikan sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Dengan demikian perubahan-perubahan tingkah laku akibat pertumbuhan fisisk atau kematangan, kelelahan, penyakit, atau pengaruh obat-obatan adalah tidak termasuk sebagai belajar.
Belajar yang efektif adalah melalui pengalaman. Dalam proses belajar, seseorang berinteraksi langsung dengan objek belajar dengan menggunakan semua alat indranya. Belajar merupakan proses dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang.
Proses belajar itu berbeda dengan proses kematangan. Kematangan adalah proses dimana tingkah laku dimodifikasi sebagai akibat dari pertumbuhan dan perkembangan struktur serta fungsi-fungsi jasmani. Dengan demikian tidak setiap perubahan tingkah laku pada diri individu adalah merupakan hasil belajar.

Menurut pengertian secara psikologi, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan di dalam tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar, yaitu perubahan yang terjadi secara sadar, perubahan dalam belajar bersifat fungsional, perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif, perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara, perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah, dan perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.
Pengenalan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar penting sekali artinya dalam rangka membantu murid dalam mencapai prestasi belajar yang sebaik-baiknya. Yang tergolong faktor internal adalah faktor jasmaniah, psikologis, kematangan fisik maupun psikis, dan lingkungan spiritual atau keamanan. Yang tergolong eksternal, ialah faktor sosial, budaya dan fisik.
Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi belajar, dapat digolongkan menjadi 3 macam, yaitu :
a. Faktor-faktor Stimulus Belajar
Stimulus belajar disini yaitu segala hal diluar untuk mengadakan reaksi atau perbuatan belajar. Stimulus dalam hal ini mencakup material, penugasan, serta suasana lingkungan eksternal yang harus diterima dipelajari oleh pelajar. Beberapa hal yang berhubungan dengan faktor-faktor stimulus belajar, yaitu :
1. Panjangnya bahan pelajaran
2. Kesulitan bahan pelajaran
3. Berartinya bahan pelajaran
4. Berat ringannya tugas
5. Suasana lingkungan eksternal

b. Faktor-faktor Metode Belajar
Metode mengajar yang dipakai oleh guru sangat mempengaruhi metode belajar yang dipakai oleh si pelajar. Faktor-faktor metode belajar menyakut hal-hal berikut ini :
a. Kegiatan berlatih atau praktek
b. Overlearning dan Drill
c. Resitasi selama belajar
d. Pengenalan tentang hasil-hasil belajar
e. Belajar dengan keseluruhan dan dengan bagian-bagian
f. Penggunaan modalitas indra
g. Bimbingan dalam belajar
h. Kondisi-kondisi insentif

c. Faktor-faktor Individual
Kecuali faktor-faktor stimulus dan metode belajar, faktor-faktor individual sangat besar pengaruhnya terhadap belajar seseorang. Adapun faktor-faktor individual dua itu menyakut hal-hal berikut :
a. Kematangan
b. Faktor usia kronologis
c. Faktor perbedaan jenis kelamin
d. Pengalaman sebelumnya
e. Kapasitas mental
f. Kondisi kesehatan jasmani
g. Kondisi kesehatan rohani
h. Motivasi

· PENGERTIAN DASAR PENGAJARAN PERBAIKAN (REMEDIAL
TEACHING)

1. Hubungan Pengajaran Perbaikan dalam Proses Belajar Mengajar
Dalam kurikulum sekolah-sekolah dewasa ini metode dan sistem penyampaiannya dipergunakan pendekatan dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Pendekatan ini dianggap merupakan salah satu sistem yang efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang optimal dengan melalui satuan pelajaran. Satuan pelajaran adalah kegiatan belajar mengajar guna membahas suatu bahan atau satuan bahasan, dalam rangka pencapaian tujuan yang lebih khusus (tujuan instruksional khusus).
Dengan demikian proses belajar mengajar dengan pendekatan PPSI langkah-langkahnya meliputi :
1. Merumuskan TIK.
2. Menyusun alat evaluasi.
3. Menentukan :
- Materi Pelajaran
- Kegiatan belajar mengajar (metode, alat, dan sumber).
4. Melaksanakan pengajaran dan evaluasi.
5. Umpan balik :
- Revisi program
- Remedial

2. Perlunya Pengajaran Perbaikan
Pengajaran perbaikan ini perlu dikuasai setidak-tidaknya dikenal oleh guru bidang studi dan petugas bimbingan yang menyuluh. Dengan demikian pengajaran ini perlu dapat dilihat dari segi :
a. Siswa
Bahwa setiap siswa dalam proses belajar mengajar mempunyai hasil yang berbeda-beda.dalam pedagogic perbedaan individual ini harus diterima/ merupakan prinsip dalam setiap situasi pendidikan. Ada beberapa perbedaan individual yang menjadi dasar perhatian antara lain sebagai berikut :
- perbedaan kecerdasan
- perbedaan hasil belajar
- perbedaan bakat
- perbedaan sikap
- perbedaan kebiasaan
- perbedaan pengetahuan
- perbedaan kepribadian
- perbedaan kebutuhan
- perbedaan cita-cita
- perbedaan minat
- perbedaan fisik
- perbedaan lingkungan
Atas dasar perbedaan individual ini guru dalam proses belajar mengajar harus menggunakan berbagai pendekatan dengan menggunakan suatu tanggapan : bila siswa mendapat kesempatan belajar sesuai dengan pribadinya dapat diharapkan mencapai prestasi belajar yang optimal sesuai dengan kemampuannya.

b. Guru
Guru dalam proses belajar mengajar mempunyai fungsi ganda yaitu sebagai instruktur, konselor, petugas psikologi, sebagai media, sebagai sumber, dan mempunyai tanggung jawab atas tercapainya tujuan pengajarn khususnya peningkatan prestasi belajar.

c. Proses Pendidikan
Dalam proses pendidikan, bimbingan, dan penyuluhan merupakan kelengkapan dari keseluruhan proses atau pelaksanaan program. Melalui pelayanan bimbingan dan penyuluhan diharapkan siswa mencapai perkembangan pribadi yang integral. Dengan demikian perlunya/pentingnya pengajaran perbaikan atau remedial teaching itu dapat dilihat dari berbagai segi yaitu atas dasar pertimbangan : pedagogis, psikologis, didaktis, metodis, moral, dan lain-lain.

3. Pengertian Pengajaran Perbaikan
Remedial teaching atau pengajaran perbaikan adalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan atau dengan pengajaran yang membuat menjadi baik. Dapat dikatakan pula bahwa pengajaran perbaikan itu berfungsi terapis untuk (penyembuhan). Yang disembuhkan adalah beberapa hambatan (gangguan) kepribadian yang berkaitan dengan kesulitan belajar sehingga dapat timbale balik dalam arti perbaikan belajar juga perbaikan pribadi dan sebaliknya.
Tujuan pengajaran perbaikan, yaitu agar siswa dapat memahami dirinya khususnya prestasi belajarnya, dapat memperbaiki/mengubah cara belajar ke arah yang lebih baik, dapat memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat, dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan yang dapat mendorong tercapainya hasil yang lebih baik, dan dapat melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan kepadanya.
Dalam keseluran proses belajar mengajar, pengajaran perbaikan mempunyai fungsi : korektif, pemahaman, penyesuaian, pengayaan, akselerasi,dan terapsutik. Sehubungan dengan masalah ini maka perlu kiranya dipahami oleh para guru atau petugas bimbingan, setidak-tidaknya diketahui prinsip-prinsipnya masalah-masalah yang menyakut : cara belajar siswa, kondisi belajar, strategi pengajaran, hubungan guru siswa, pengelolaan kelas, dan bidang studi.


· PENDEKATAN DAN METODE DALAM PENGAJARAN REMEDIAL
1. Pendekatan yang bersifat Kuratif

Pendekatan ini diadakan mengingat kenyataannya ada seseorang atau sejumlah siswa, bahkan mungkin seluruh anggota kelompok belajar tidak mampu menyelesaikan program secara sempurna sesuai dengan kriteria keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Untuk mencapai sasaran pencapaian dapat mengunakan pendekatan : pengulangan, pengayaan, dan pencepatan.
2. Pendekatan yang bersifat Preventif
Pendekatan ini ditujukan kepada siswa tertentu yang berdasarkan data/informasi diprediksikan atau patut diduga akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan suatu program studi tertentu yang akan ditempuhnya.
3. Pendekatan yang bersifat Pengembangan
Pendekatan ini merupakan upaya yang dilakukan guru selama proses belajar mengajar berlangsung. Sasaran pokok dari pendekatan ini adalah agar siswa dapat mengatasi hambatan-hambatan atau kesulitan-kesulitan yang mungkin dialami selama proses belajar mengajar berlangsung.
4. Metode dalam Pengajaran Perbaikan
Metode yang digunakan dalam pengajaran perbaikan yaitu metode yang dilaksanakan dalam keseluruhan kegiatan bimbingan belajar mulai dari tingkat identifikasi kasus dengan tindak lanjut. Metode yang dapat digunakan, yaitu Tanya jawab, diskusi, tugas, kerja kelompok, tutor, dan pengajaran individual.
5. Prosedur Pelaksanaan Remedial Teaching
Remedial teaching merupakan salah satu bentuk bimbingan belajar dapat dilaksanakan melalui prosedur sebagai berikut :
1. Meneliti kasus permasalahannya sebagai titik tolak kegiatan-kegiatan berikutnya.
2. Menentukan tindakan yang harus dilakukan.
3.Pemberian layanan khusus yaitu bimbingan dan konseling.
4. Langkah pelaksanaan remedial teaching.
5. Melakukan pengukuran kembali terhadap prestasi belajar.
6. Melakukan re-evaluasi dan re-diagnostik.

· EVALUASI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR
Menurut Sumadi Suryabrata, pengertian pengukuran mencakup segala cara untuk memperoleh informasi yang dapat dikuantifikasikan,baik dengan tes maupun dengan cara-cara lain. Sedangkan pengertian evaluasi menekankan penggunaan informasi yang diperoleh dengan pengukuran maupun dengan cara lain untuk menentukan pendapat dan membuat keputusan-keputusan pendidikan.
Kaitan antara evaluasi dan pengukuran, dijelaskan oleh Nasrun Harahap, dan kawan-kawan sebagai berikut: “ Pengukuran dan evaluasi mempunyai hubungan yang erat. Evaluasi memberikan petunjuk pada bidang-bidang mana diperlukan me-asurement (pengukuran), sebaliknya evaluasi tidak mungkin dilakukan tanpa pengukuran. Pengukuran dilakukan atas ketrampilan, kesanggupan dan achievement tiap individu atau kelompok”.
Adapun aspek-aspek kepribadiannya yang harus diperhatikan dan merupakan objek di dalam pelaksanaan evaluasi tersebut, menurut Nasrun Harahap, dkk. adalah berikut ini :
1. Aspek-aspek tentang berpikir, meliputi: inteligensi, ingatan, cara menginterpretasi data,
pokok-pokok pengerjaan, pemikiran yang logis, dan lain-lain.
2. Dari segi perasaan sosialnya, meliputi : kerjasama dengan kawan sekelasnya, cara
bergaul,cara pemecahan masalah serta nilai-nilai sosial, cara mengatasi dan menghadapi serta
cara berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
3. Dari kekayaan sosial dan kewarganegaraan meliputi : pandangan hidup atau pendapatnya
terhadap masalah-masalah sosial, politik, dan ekonomi.

Tujuan evaluasi dapat dilihat dari dua segi, tujuan umum dan tujuan khusus. L. Pasaribu dan Simanjuntak, menegaskan bahwa :
1. Tujuan umum dari evaluasi adalah sebagai berikut :
- Mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan murid dalam mencapai
tujuan yang diharapkan.
- Memungkinkan pendidik/guru menilai aktivitas/pengalaman yang didapat.
- Menilai metode mengajar yang dipergunakan.

2. Tujuan khusus dari evaluasi adalah berikut ini :
- Merangsang kegiatan siswa.
- Menemukan sebab-sebab kemajuan atau kegagalan.
- Memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan, perkembangan dan bakat siswa
yang bersangkutan.
- Memperoleh bahwa laporan tentang perkembangan siswa yang diperlakukan orang tua dan lembaga pendidikan.
- Memperbaiki mutu pelajaran/cara belajar dan metode belajar.
Selanjutnya dilihat dari pelaksanaannya evaluasi mempunyai 3 prinsip, yaitu berikut ini :
1. Prinsip keseluruhan
2. Prinsip kontinuitas
3. Prinsip objektivitas

Dalam kaitannya dengan kegiatan belajar-mengajar, evaluasi mempunyai fungsi yang amat penting, yaitu berikut ini :
a. Untuk memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk perbaikan proses belajar-
mengajar, serta mengadakan perbaika program bagi murid.
b. Untuk memberikan angka yang tepat tentang kemajuan atau hasil belajar dari setiap murid.
Antara lain digunakan dalam rangka pemberian laporan kemajuan murid kepada orang tua,
penentuan kenaikan kelas serta penentuan lulus tidaknya seorang murid.
c. Untuk menentukan murid di dalam situasi belajar mengajar yang tepat, sesuai dengan tingkat
kemampuan (dan karakteristik lainnya) yang dimiliki oleh murid.
d.Untuk mengenal latar belakang (psikologi, fisik, dan lingkungan) muridyang mengalami
kesulitan belajar, nantinya dapat dipergunakan sebagai dasar dalam pemecahan kesulitan-
kesulitan belajar yang timbul.

Biasanya evaluasi dapat dibagi menjadi 4 jenis, yaitu :
1. Evaluasi Formatif
- Fungsi : untuk memperbaiki proses belajar mengajar kea rah yang lebih baik, atau memperbaiki program satuan pelajaran yang telah digunakan.
- Tujuan : untuk mengetahui hingga di mana penguasaan murid tentang bahan yang telah diajarkan dalam suatu program satuan pelajaran.
- Aspek-aspek yang dinilai : yang berkenaan dengan hasil kemajuan belajar murid, meliputi : pengetahuan, ketrampilan, sikap dan penguasaan terhadap bahan pelajaran yang telah disajikan.
- Waktu pelaksanaan : setiap akhir pelaksanaan satuan program belajar mengajar.

2. Evaluasi Sumatif
- Fungsi : untuk menentukan angka/nilai murid setelah mengikuti program pengajaran dalam satu caturwulan,semester, akhir tahun atau akhir dari suatu program bahan pengajaran dari suatu unit pendidikan. Disamping itu, untuk memperbaiki situasi proses belajar mengajar kearah yang lebih baik serta untuk kepentingan penilaian selanjutnya.
- Tujuan : untuk mengetahui taraf hasil belajar yang dicapai oleh murid setelah menyelesaikan program bahan pengajaran dalam satu caturwulan, semester, akhir tahun atau akhir suatu program bahan pengajaran pada suatu unit pendidikan tertentu.
- Aspek-aspek yang dinilai : aspek yang dinilai ialah kemajuan belajar, meliputi : pengetahuan, ketrampila, sikap dan penguasaan murid tentang materi pelajaran yang sudah diberikan.
- Waktu pelaksanaan : akhir caturwulan, semester, atau akhir tahun.

3. Evaluasi Placement (Penempatan)
- Fungsi : untuk mengetahui keadaan anak termasuk keadaan seluruh pribadinya, agar anak tersebut dapat ditempatkan pada posisinya yang tepat.
- Tujuan : untuk menempatkan anak didik pada kedudukan yang sebenarnya, berdasarkan bakat, minat, kemampuan, kesanggupan serta keadaan-keadaan lainnya, sehingga anak tidak mengalami hambatan dalam mengikuti setiap program/bahan yang disajikan guru.
- Aspek-aspek yang dinilai, meliputi : keadaan fisik, psikis, bakat, kemampuan/pengetahuan, ketrampilan, sikap dan lain-lain aspek yang dianggap perlu bagi kepentingan pendidikan anak selanjutnya.
- Waktu pelaksanaan : penilaian ini sebaiknya dilaksanakan sebelum anak mengikuti proses belajar-mengajar yang permulaan. Atau anak tersebut baru akan mengikuti pendidikan di suatu tingkat tertentu.

4. Evaluasi Diagnostik
- Fungsi : untuk mengetahui masalah-masalah apa yang diderita atau yang menggangu anak didik, sehingga ia mengalami kesulitan, hambatan atau gangguan ketika mengikuti program tertentu. Dan bagaimana usaha untuk memecahkannya.
- Tujuan : untuk mengatasi/membantu pemecahan kesulitan atau hambatan yang dialami anak didik waktu mengikuti kegiatan belajar-mengajar pada suatu bidang studi atau keseluruhan program pengajaran.
- Aspek-aspek yang dinilai : hasil belajar, latar belakang kehidupan anak, keadaan keluarga, lingkungan, dan lain-lain.
- Waktu pelaksanaan : dapat dilaksanakan setiap saat sesuai dengan kebutuhan.
Dalam pelaksanaannya, evaluasi dapat ditempuh melalui dua cara, yaitu:
1. Teknik Tes, dapat berbentuk :
- tes tertulis
- tes lisan, dan
- tes perbuatan
2. Teknik non-tes :
- angket;
- wawancara/interviu;
- observasi;
- kuesioner atau inventori.

§ Peranan Psikologi Belajar dalam Kegiatan Evaluasi
Sebagaimana telah dijelaskan dalm uraian terlbih dahulu, bahwa psikologi belajar pada dasarnya adalah membicarakan aspek-aspek psikologi yang mempengaruhi proses dan hasil belajar, sedangkan evaluasi belajar adalah suatu aktivitas untuk mengetahui berhasil tidaknya tujuan belajar maka dapat dikatakan bahwa psikologi belajar akan mendasari segala kegiatan yang menyangkut evaluasi belajar.
Jika anak ternyata tidak berhasil dalam engikuti evaluasi, kita tidak cepat mengatakan bahwa si A tolol, akan tetapi perlu dicari faktor-faktor penyebab sehingga anak tersebut gagal dalam mengikuti evaluasi. Mungkin karena materi/bobot evaluasinya tidak sesuai, barangkali kesehatan anak sedang terganggu dan sebagainya.
Sebaliknya seorang evaluator yang tidak memahami pentingnya psikologi belajar, maka apa yang dilakukan dalam mengadakan evaluasi biasanya hanya bersandar pada keinginan semata-mata, tanpa memperhitungkan pada kemampuan anak maupun aspek-aspek lain yang semestinya diperhitungkan.

· CBSA (CARA BELAJAR SISWA AKTIF) DALAM PROSES BELAJAR
MENGAJAR

Cara belajar siswa aktif (CBSA) merupakan istilah yang bermakna, sama dengan Student Active Learning (SAL). CBSA bukan disiplin ilmu atau dalam bahasa popular bukan “teori”, tapi merupakan cara, teknik atau dalam bahasa lain disebut “teknologi”.
Sebagai konsep CBSA adalah suatu proses kegiatan belajar mengajar yang subjek didiknya terlibat secara intelektual dan emosional, sehingga subjek didik betul-betul berperan dan berpartisipasi aktif dalam melakukan kegiatan belajar.
CBSA adalah salah satu cara strategi belajar mengajar yang menuntut keaktifan dan partisipasi subjek didik seoptimal mungkin, sehingga siswa mamp mengubah tingkah lakunya secara lebih efektif danefisien. Untuk melihat terwujudnya cara belajar siswa aktif dalam proses belajar mengajar, terdapat beberapa indicator cara belajar siswa aktif.
Mengapa proses pengajaran harus mengoptimalkan kadar keaktifan siswa belajar atau CBSA ?. Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat dikaji dari 4 perangkat, asumsi mengenai :
a. Asumsi Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar memanusiakan manusia, atau membudayakan manusia. Pendidikan adalah proses sosialisasi menuju kedewasaan intelektual, sosial, moral sesuatu dengan kemampuan dan martabatnya sebagai manusia. Atas dasar itu maka hakikat pendidikan adalah :
a. interaksi manusia;
b. membina dan mengembangkan potensi manusia;
c. berlangsung sepanjang hayat;
d. sesuai dengan kemampuan dan tingkat perkembangan individu;
e. ada dalam keseimbangan antara kebebasan subjek didik dengan kewibawaan guru, dan
f. meningkatkan kualitas hidup manusia.

b. Asumsi Anak Didik
Asumsi anak didik didasarkan kepada :
a. anak bukan manusia kecil, tapi manusia seutuhnya yang mempunyai potensi untuk
berkembang,
b. setiap individu/anak didik berbeda kemampuannya,
c. individu/anak didik pada dasrnya insane yang aktif, kreatif dan dinamis dlam mengahadapi
lingkungannya,
d. anak didik mempunyai motivasi untuk memenuhi kebutuhannya.
c. Asumsi Guru
Asumsi guru bertolak dari :
a. bertanggung jawab atas tercapainya hasil belajar siswa,
b. memiliki kemampuan professional sebagai pengajar,
c. mempunyai kode etik keguruan,
d. berperan sebagai sumber belajar, pemimpin belajar dan fasilitator belajar sehingga
memungkinkan terciptanya kondisi yang baik bagi siswa untuk belajar.
d. Asumsi Proses Pengajaran
Beberapa asumsi proses pengajaran antara lain berikut ini :
a. proses pengajaran direncanakan dan dilaksanakan sebagai suatu sistem,
b. peristiwa belajar terjadi apabila siswa berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur oleh
guru,
c. proses pengajaran akan lebih efektif apabila menggunakan metode dan teknik yang tepat dan
berdayaguna,
d. pengajaran memberi tekanan kepada proses dan produk secara seimbangan,
e. inti dari proses pengajaran adalah adanya kegiatan siswa belajar secara optimal.
Ada beberapa prinsip belajar yang dapat menunjang tumbuhnya cara belajar siswa aktif yakni stimulus belajar, perhatian dan motivasi, respons yang dipelajari, penguatan dan umpan balik serta pemakaian dan pemindahan.


· PEMIKIRAN KE ARAH APLIKASI PSIKOLOGI BELAJAR
1. Implikasi Teori-Teori Belajar dari Psikologi Behavioristik

a. Prosedur-prosedur Pengembangan Tingkah Laku Baru

Disamping penggunaan reinforcement untuk memperkuat tingkah laku, adapula dua metode lain untuk mengembangkan pola tingkah laku baru :
1. Shaping
Fraznier mengemukakan lima langkah perbaikan tingkah laku belajar murid :
-datang di kelas pada waktunya
-berpartisipasi dalam belajar dan merespons guru
-menunjukkan hasil-hasil tes dengan baik
-mengerjakan pekerjaan rumah
penyempurnaan.
2. Modelling
Modelling adalah suatu bentuk belajar yang tak dapat disamakan dengan classical conditioning maupun operant conditioning. Dalam modeling, seseorang yang belajar mengikuti kelakuan orang lain sebagai model. Tingkah laku manusia lebih banyak dipelajari melalui modeling atau imitasi darpada melalui pengajaran.
b. Prosedur-Prosedur Pengendalian atau Perbaikan Tingkah Laku
1. Memperkuat tingkah laku bersaing
2. Ekstingsi
3. Satiasi
4. Perumahan lingkungan stimulus
5. Hukuman
c. Langkah-Langkah Dasar Modifikasi Tingkah Laku
1. Rumuskan tingkah laku yang diubah secara operasional.
2. Amatilah frekuensi tingkah laku yang perlu diubah.
3. Ciptakan situasi belajar atau treatment sehingga terjadi tingkah laku yang
diinginkan.
4. Identifikasi reinforcers yang potensial.
5. Perkuatlah tingkah laku yang diinginkan, dan jika perlu gunakan prosedur-
prosedur untuk memperbaiki tingkah laku yang tidak pantas.
6. Rekam/catatlah tingkah laku yang diperkuat untuk menentukan kekuatan-
kekuatan atau frekuensi respons yang telah ditingkatkan.
d. Pengajaran Terprogram
Pengajaran terprogram berusaha memajukan belajar dengan :
-Merinci bahan pelajaran menjadi unit-unit kecil.
-Memaksa murid mereaksi unit-unit kecil itu.
-Memberitahukan hasil belajar secara langsung.
-Memberikan kesempatan untuk bekerja sendiri.
Ada bermacam-macam pengajaran terprogram, antar lain berikut ini :
a. Program Linier, penyusunan program menentukan urut-urutan kegiatan murid untuk menyelesaikan program.
b. Program Intrinsik, dalam program ini respons-respons murid menentukan rute atau arah kegiatan murid-murid menentukan rute atau arah kegiatan murid itu.
e. Program-program Pengajarn Individual
Prinsip-prinsip pengajarn terprogram telah diterapkan dalam program-program pengajaran individual. Program pengajaran individual telah dikembangkan pada beberapa lembaga pendidikan seperti berikut ini:
- Program for Learning in Accordance with Needs (PLAN), pada Westinghouse Corporation.
- Individually Guide Education (IGE), pada pusat penelitian pengembangan belajar kognitif-Universitas Pittsburg.

f. Analisis Tugas
Salah satu fungsi guru yang terpenting adalah setelah ia menentukan tujuan ialah menganalisis tugas. Analisis tugas akan membantu kea lam pandangan yang sosiosentris. Tipe kelas yang dikehendaki oleh Piaget menekankan pada transmisi pengetahuan melalui metode ceramah diskusi dan mendorong guru untuk bertindak sebagai katalisator dan siswa belajar sendiri. Tujuan pendidikan bukanlah meningkatkan kemungkinan bagi anak untuk menemukan dan menciptakan sendiri.

2. Implikasi Teori Belajar Humanistik
Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator yang berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas si fasilitator.
Menurut Combs dan kawan-kawan, ciri-ciri guru yang baik ialah berikut ini :
-Guru yang mempunyai anggapan bahwa orang lain itu mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah mereka sendiri dengan baik.
-Guru yang melihat bahwa orang lain mempunyai sifat ramah dan bersahabat dan bersifat ingin berkembang.
-Guru yang cenderung melihat orang lain sebagai orang yang sepatutnya dihargai.
-Guru yang menganggap orang lain itu pada dasarnya dipercaya dan dapat diandalkan dalam pengertian dia akan berperilaku menurut aturan-aturan yang ada.
-Guru yang melihat orang lain itu dapat memenuhi dan meningkatkan dirinya, bukan mengahalangi, apalagi mengancam.
Pendekatan humanistik diikhtisarkan sebagai berikut :
-Siswa akan maju menurut iramanya sendiri dengan suatu perangkat materi yang sudah ditentukan lebih dulu untuk mencapai suatu perangkat tujuan yang telah ditentukan pula dan para siswa bebas menentukan cara mereka sendiri dalam mencapai tujuan mereka sendiri.
-Pendidikan aliran humanistik mempunyai perhatian yang murni dalam pengembangan anak-anak perbedaan-perbedaan individual.
-Ada perhatian yang kuat terhadap pertumbuhan pribadi dan perkembangan siswa secara individual.

Selanjutnya Gagne dan Briggs mengatakan bahwa pendekatan humanistik adalah pengembangan nilai-nilai dan sikap pribadi yang dikehendaki secara sosial dan memperoleh pengetahuan yang luas tentang sejarah, sastra, dan pegolahan strategi berpikir produktif.

0 komentar on "PSIKOLOGI BELAJAR (RESUME)"

Poskan Komentar

 

novira tri risanti Copyright 2008 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Ipiet | All Image Presented by Tadpole's Notez